Assalamualaikum sobat.
Alhamdulillah saya hadir kembali di dunia per-blog-an. Sebagai ibu rumah tangga, penyaluran 40.000 kata per hari dengan menulis, ternyata cukup efektif mengubahnya menjadi energi positif. Selain ingin punya catatan tumbuh kembang anak, saya juga ingin menyalurkan unek-unek, sharing pengalaman sehari-hari dan berbagai informasi yang mungkin akan bermanfaat bagi kita semua.
By the way, salam kenal ya... Saya Aprilia Fitriningsih. Bergelar sarjana pendidikan, saya sangat bersyukur bisa menjadi guru bagi ketiga putra-putri saya Kirani (4y) dan si kembar Hamas dan Hamiz (2y).
Setelah sempat mengambil peran di dunia pendidikan (menjadi guru), saya memutuskan untuk 'kembali ke rumah', membersamai anak-anak. Yup, ini bukan tanpa alasan ya. Tapi memang sudah melalui pertimbangan dan komunikasi bersama suami tercinta.
Bagi saya--yang baru 5th menjalani hidup berkeluarga-- tidaklah mudah mengalami fase-fase perubahan yang signifikan dalam menjalani hidup. Dari proses pernikahan by ta'aruf, mengandung, menjadi orang tua, dst. hingga kini saya terus memperbaiki diri, niat, dan tekad untuk terus belajar menjadi lebih baik.
"Belajar sepanjang hayat" sebuah motivasi bagi diri dalam menghadapi segala tantangan. Saya selalu berkomunikasi dengan suami tentang berbagai hal. Sejak awal, kami bicarakan tentang visi dan misi aktualisasi diri masing-masing. Saya berkomitmen akan melaksanakan tugas sebagai istri dan ibu. Selain itu, saya juga ingin melanjutkan profesi publik. In the other side, I told him that I want to learn more, lanjut studi (S2/S3 red.). Bahwa menjadi supporting system bagi suami dan anak haruslah berpendidikan. Ada cita-cita yang ingin digapai sebagai manifestasi dakwah kemasyarakatan : menjadi guru atau dosen profesional.
Tidak. Saya bukan seorang yang sempurna, saya hanyalah seorang wanita yang ingin memberi yang terbaik bagi orang-orang disekitar saya. Ingin selalu bahagia dalam menjalani peran kehidupan. Seorang anak yang belajar menjadi anak. Seorang istri yang belajar menjadi istri. Seorang ibu yang sedang belajar menjadi ibu. Learning by doing. Sebagaimana mana pula, yang saya inginkan dari anak keturunan kami. Berbekal firman Allah SWT dalam Surat An-Nisa', Ayat 9 :
وَلۡيَخۡشَ ٱلَّذِينَ لَوۡ تَرَكُواْ مِنۡ خَلۡفِهِمۡ ذُرِّيَّةٗ ضِعَٰفًا خَافُواْ عَلَيۡهِمۡ فَلۡيَتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡيَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدًا
"Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar."
Semakin hari, kami pun semakin banyak belajar bahwa mewujudkan cita-cita tidak boleh egois. Hidup kita bersinggungan dengan kehidupan orang lain, keluarga kita salah satunya. Disinilah letaknya perbedaan antara orang yang beriman dan tidak, antara yang memperhatikan adab dan tidak. Segala sesuatu yang diawali dengan niat baik haruslah diiringi dengan usaha untuk berproses dengan baik dan halal. Oleh karena itu, dalam hal ini kami justru sering harus mengalah, menahan ego-ego pribadi, memperhatikan waktu, lebih gigih bekerja, menabung, dan tidak lupa sedekah. Hal yang juga menjadi perhatian khusus adalah menjaga agar anak-anak tak kekurangan kasih sayang dan perhatian karena orang tuanya sibuk bekerja atau urusan lainnya.
Ya intinya : terus belajar, belajar terus. Bukankah segala yang baik juga akan berbuah baik? Bismillah. Semoga Alloh SWT meridhoi. Aamiin.


0 Comments