Sepucuk Surat Untuk Suamiku





Sayang, aku tak pernah lupa tentang ‘pertemuan’ kita
Meski saat itu aku tak sanggup menatap wajahmu dan berbicara banyak padamu
Namun aku sangat bahagia kita telah mengikat janji setia

Sayang, aku tak pernah lupa saat dimana kita melewati masa perkenalan setelah menikah
Aku merasa menjadi wanita paling bahagia di dunia

Sayang, aku tak pernah lupa rasa haru saat melihatmu tetap memakan masakanku
Yang ala-ala adanya, yang tak sepandai wanita pada umumnya

Sayang, aku tak pernah lupa saat kau membereskan bekas muntahanku
Sampai-sampai kau tak berangkat bertugas demi menenangkanku

Sayang, aku tak pernah lupa saat kau pijat punggungku yang mulai lelah
Karena mengandung anakmu atau bekerja seharian, menyuci, menyetrika, mengurus anakmu, dll.
Karena pijatanmu itu, aku merasa baikan dan lelap tidurku

Sayang, engkau begitu sabar menghadapi egoku yang masih labil
Dan bahkan saat kita saling berselisih paham

Sayang, aku satu dari sekian manusia
Yang mood swing
Yang mudah termakan kesakitan diri
Saat hati tak mampu menahan luapan rasa
Meski ada banyak cara untuk lampiaskan
Lewat nada dan kata
Atau gambar dan pena
Namun sering aku tak adil
Lampiaskan pada “yang di depan mata”

Sayang, kau sungguh sabar terhadapku
Kau begitu paham bahwa semua itu adalah ego kecilku
Tak semudah terlihat mata
Atau dipendam di dada
Ya, aku hanyalah manusia tak bisa kalahkan hawa nafsu

Sayang, maafkan aku
Sering lampiaskan tanpa makna
Berdalih dengan sesuatu yang benar
Namun lebih sering menjadi onar

Sayang, sungguh hanya keridhoanmulah maka ridho Alloh kan hadir padaku
Bukan sekedar ucap semata bahkan ku rela menahan rasa untuk sebuah ketaatan

Sayang, entah harus bagaimana aku ungkapkan rasa syukur ini
Terimakasih karena selalu ada dan menjadi bagian hidupku
Aku tahu, betapa beruntungnya aku, Alhamdulillah

Doa terbaik untukmu, insyaAlloh

Dariku YANG SELALU MENUNGGUMU dengan sabar MESKI HANYA SEBATAS KABAR

_Aprilia Fitriningsih_

0 Comments